I.
PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH SECARA
IDEAL
Sastra lahir oleh
dorongan manusia untuk mengungkapkan diri tentang masalah manusia, kemanusiaan,
dan semesta (Semi dalam Anwar Balfas, 2008:3). Sastra adalah pengungkapan
masalah hidup, filsafat, dan ilmu jiwa. Sastrawan dapat dikatakan sebagai ahli
ilmu jiwa dan filsafat yang mengungkapkan masalah hidup, kejiwaan, dan
filsafat, bukan dengan cara teknik melisankan melaui tulisan satra. Perbedaan
sastrawan dengan orang lain terletak pada kepekaan sastrawan yang dapat
menembus kebenaran hakiki manusia yang tidak dapat diketahui orang lain.
Sastra selain sebuah karya seni yang
memiliki budi, imajinasi, dan emosi, juga sebagai karya kreatif yang
dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual dan emosional. Sastra yang telah
dilahirkan oleh sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasan estetik dan
intelektual bagi pembaca (Semi dalam Balfas, 2008:3)
Mengacu pada pengertian sastra di atas, sudah sewajarnya bila
tujuan pembelajaran sastra juga untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada
siswa. Sastra dapat memengaruhi daya emosi, imajinasi, kreativitas, dan
intelektual siswa sehingga berkembang secara maksimal.
Pembelajaran
sastra di sekolah perlu dilakukan karena akan memberikan sumbangsi untuk
perkembangan sastra itu sendiri melalui peningkatkan berbagai keterampilan
siswa. Maman S. Mahayana (2007) mengemukakan bahwa pembelajaran sastra di
sekolah akan menjadi wadah bagi siswa dalam (a) menikmati dan memanfaatkan
karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta
meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (b) menghargai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Hadirnya sastra sebagai materi ajar dan bahan bacaan di sekolah adalah awal
yang baik untuk apresiasi sastra bagi siswa sebelum terlibat sebagai penggubah
karya sastra di masa mendatang. Dengan sastra pula, siswa mampu meningkatkan
pengetahuan dan belajar tentang kehidupan. Hal ini berkaitan dengan pendapat Gove
(dalam Aminuddin, 2004:34) yang mengemukakan bahwa pengenalan yang melibatkan
perasaan dan kepekaan batin disertai pemahaman dan pengakuan akan keindahan
termasuk bentuk apresiasi.
Selain tujuan di atas, pembelajaran sastra
juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman dan
pengetahuan sastra (Mahmudi Effendi, 2005:6). Dalam pembelajaran sastra, guru
akan, menyediakan kesempatan agar murid mengalami kegiatan membaca atau
mendengarkan hasil sastra yang termasuk dalam fungsi apresiasi sastra dan siswa
akan mengalami kegiatan menulis karangan yang termasuk dalam fungsi ekspresi
sastra.
Uraian di atas adalah gambaran ideal yang
diharapkan dalam pembelajaran sastra di sekolah. Berbagai upaya telah dilakukan
dan akan terus berlanjut, salah satunya dalam pembenahan kurikulum sehingga
tujuan pembelajaran sastra dapat tercapai secara maksimal.
II. REALITAS
PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
Jika
merujuk pada tujuan yang hendak dicapai pada tujuan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang mulai diberlakukan tahuan ajaran 2006—2007 berdasarkan
pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 dan 23/2006 tentang Standar
Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan tentang Standar Kompetensi
Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, maka sesungguhnya KTSP
memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk
mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya.
Kaitannya
dengan pembelajaran sastra di sekolah adalah hal ini memberikan peluang agar
guru lebih kreatif dalam pembelajaran sastra. Terlebih lagi berbagai metode
pembelajaran yang menarik sudah dapat ditransfer dari berbagai sumber baik
media cetak maupun elektronik. Namun, sangat disayangkan karena pembelajaran
sastra justru semakin terasa hanya dipandang oleh segelintir siswa sebagai hal
yang menyenangkan, cukup dibaca dan dipelajari saja. Hal ini berdampak pada
semakin jauhnya siswa dari proses kreatif (mencipta karya). Padahal, jika
disadari pembelajaran sastra sangat menyenangkan untuk dibahas.
Balfas (2008)
menjelaskan hal senada berkaitan dengan realitas pembelajaran sastra di atas
dengan kesimpulan dari berbagai sumber sebagai berikut.
“Beberapa keluhan dalam pembelajaran
sastra di lembaga pendidikan formal jika mau dipetakan berkisar pada hal-hal
berikut.
Pertama, pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas (Alpansyah, 2005; Wahyudi, 2007). Materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di perguruan tinggi (PT) sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Kedua, buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah, khususnya di SLTP dan SMU juga terbatas (Rosidi 1997:19-25). Lain halnya, keterbatasan buku penunjang ini sedikit terjadi di SD karena hampir semua SD, di daerah perkotaan khususnya, setiap tahun menerima kiriman buku bacaan dari Proyek Perbukuan Nasional Depdikbud. Hanya saja, pemanfaatan buku bacaan tersebut tampaknya belum maksimal karena ada faktor lain yang berkaitan dengan ini, yaitu faktor minat siswa atau subjek didik. Minat belajar dan minat membaca para siswa masih sangat rendah. Faktor ketersediaan waktu, manajemen perpustakaan sekolah, dan dorongan dari guru menjadi ikut menjadi penyebab dalam hal ini. Berbagai kendala di atas menyebabkan pembelajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan peningkatan apresiasi sastra pada subjek didik belum menggembirakan.”
Pertama, pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas (Alpansyah, 2005; Wahyudi, 2007). Materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di perguruan tinggi (PT) sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Kedua, buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah, khususnya di SLTP dan SMU juga terbatas (Rosidi 1997:19-25). Lain halnya, keterbatasan buku penunjang ini sedikit terjadi di SD karena hampir semua SD, di daerah perkotaan khususnya, setiap tahun menerima kiriman buku bacaan dari Proyek Perbukuan Nasional Depdikbud. Hanya saja, pemanfaatan buku bacaan tersebut tampaknya belum maksimal karena ada faktor lain yang berkaitan dengan ini, yaitu faktor minat siswa atau subjek didik. Minat belajar dan minat membaca para siswa masih sangat rendah. Faktor ketersediaan waktu, manajemen perpustakaan sekolah, dan dorongan dari guru menjadi ikut menjadi penyebab dalam hal ini. Berbagai kendala di atas menyebabkan pembelajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan peningkatan apresiasi sastra pada subjek didik belum menggembirakan.”
Dalam pembelajaran sastra, banyak pakar mengeluhkan kelemahan
pembelajaran sastra di sekolah, diantaranya adalah materi pembelajaran sastra
lebih menekankan hapalan istilah, pengertian sastra, sejarah sastra daripada
pengakraban diri dengan karya sastra. Ada kemungkinan guru juga kurang
menguasai dunia sastra dan pembelajarannya sehingga mereka tidak mampu
mengajarkan. Setiap ada kompetensi yang berkaitan dengan sastra yang seharusnya
dikembangkan dari diri siswa, kompetensi ini dilalui begitu saja dan tidak
diajarkan. Alat evaluasi untuk pembelajaran sastra juga kurang menantang dan
kurang komprehensif. Pembelajaran sastra selama ini masih terasa sulit dan
menakutkan bagi siswa. Sudah saatnya pembelajaran sastra jadi pembelajaran yang
nyaman, menantang, dan menyenangkan. Kondisi pembelajaran sastra
yang kurang mengakrabkan siswa pada karya sastra membuat siswa menjadi rabun
novel, rabun cerpen, rabun drama, dan rabun puisi.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya
kemampuan guru dalam mengajar sastra. Pembelajarn sastra tidak terbatas pada
penjelasan teori saja yang seringkali disampaikan dengan pendekatan dan metode
konvensional. Hal yang lebih penting adalah proses kreatif dan kemampuan siswa
dalam mengekspresikan dalam bentuk produk dan gerak. Dalam hal ini, peran guru
dituntut untuk mencari dan menerapkan pendekatan dan metode yang tepat dalam
pembelajaran sastra.
III. PENDEKATAN
DAN METODE PEMBELAJARAN SASTRA
Berdasarkan
uraian di atas, saatnya guru menyadari bahwa dewasa ini, tuntutan dalam dunia
pendidikan sudah banyak berubah. Kita tidak dapat lagi mempertahankan paradigma
lama. Teori, peneliti, dan praktisi pendidikan membuktikan bahwa guru perlu
menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan berbagai pertimbangan.
Anita Lie (2004:5) mengemukakan bahwa pokok pemikiran yang harus dimiliki
seorang guru saat ini antara lain.
1. Pengetahuan
itu ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa. Guru hanya menciptakan
kondisi dan situasi yang memungkinkan siswa membentuk makna dan bahan-bahan
pelajaran melalui proses belajar dan menyimpannya untuk dikembangkan lebih
lanjut (Piaget, 1952 &1960; Freire,1970).
2. Siswa
membangun pengetahuan secara aktif bukan dibangun oleh guru (Anderson dan
Armbruster, 1982; Piaget, 1952 &1962).
3. Pengajar
perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa dengan menekankan
proses daripada hasil (Maslow, 1962; Rogers, 1982).
4. Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara
para siswa dan interaksi antara guru dan siswa (Johnson, Johnson dan Smith,
1991).
Berdasarkan
pokok pemikiran di atas, Lie menawarkan salah satu model pembelajaran yang
dikenal dengan Cooperative Learning
yang terbagi menjadi 14 teknik. Model ini menekankan pembelajaran berbasis
kerjasama antarsiswa yang menyenangkan dan efektif (Ibrahim, dkk, 2000:9).
Selain
pendekatan dan metode pembelajaran di atas, masih banyak pendekatan dan metode
yang dapat membantu guru dalam menciptakan pembelajaran sastra yang menarik
seperti pendekatan dan metode berbasis kontekstual, pendekatan dan metode Gagne,
pendekatan dan metode ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi), dan sebagainya.
Banyaknya
pendekatan dan metode yang ditawarkan dalam pembelajaran sastra di sekolah menuntut
guru untuk cerdas memilah yang memungkinkan dan efektif diterapkan di kelas.
Tentu hal ini harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa dan lingkungan
belajar.
Berdasarkan
permasalahan di atas, tulisan ini akan menyajikan salah satu analisis
komparatif mengenai dua bentuk pendekatan pembelajaran dalam aspek
keefektifannya ketika diterapkan dalam pembelajaran sastra di kelas. Pendekatan
yang akan dibandingkan yaitu Pendekatan Berbasis Kontekstual dengan Pendekatan
Gagne.
IV. PEMBELAJARAN
SASTRA DI SEKOLAH DENGAN PENDEKATAN BERBASIS KONTEKSTUAL
Menurut
Johnson, pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning)
bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat
diterapkan atau ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain
dan dari satu konteks personal, sosial, atu budaya ke konteks lainnya (Balfas,
2008). Pembelajaran kontekstual menyandarkan pada memori spasial. Pemilihan
informasi didasarkan kepada kebutuhan individu siswa. Pembelajaran kontekstual
juga selalu mengaitkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Dalam
pelaksanaannya, pembelajaran ini menerapkan penilaian autentik.
Kontekstual
merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi
alamiah dari pengetahuan. Pendekatan ini memberikan pengalaman yang lebih
relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan
diterapkannya seumur hidup melalui hubungan di dalam dan di luar kelas
(Depdiknas dalam Balfas, 2002:3). Pembelajaran ini berusaha menyajikan suatu
konsep yang dikaitkannya dengan konsep materi tersebut digunakan, sehingga
pengalaman belajarnya lebih realistis dan biasanya akan berdaya tahan lama.
Menurut Johnson (dalam Balfas, 2002:3), komponen
pembelajaran kontekstual ada delapan, yaitu (10) membuat hubungan bermakna, (2)
melakukan pekerjan yang signifikan, (3) belajar menyesuaikan diri, (4)
berkolaborasi, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) pengalaman individual, (7)
pencapaian standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian autentik.
Sementara itu, dalam dokumen Depdiknas (dalam Balfas, 2008:3) dinyatakan bahwa
pembelajaran kontekstual menekankan hal-hal berikut: (1) belajar berbasis
masalah (problem-based learning), (2)
pengajaran autentik (authentic
instruction), (3) belajar berbasis inkuiri (inquiry-based learning), (4) belajar berbasis proyek (project-based learning), (5) belajar
berbasis kerja (work-based learning),
(6) belajar layanan (service learning),
dan (7) belajar kooperatif (coperative
learning).
Pendekatan kontekstual merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan
situasi nyata siswa dan mendorong siswa mengaitkan pengetahuan yang dimiliki
dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga dan
masyarakat. Melalui pendekatan kontekstual, hasil pembelajaran lebih bermakna
bagi siswa. Proses pembelajaran bersifat alami, karena siswa bekerja dan
mengalami, bukan sekadar mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi
pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil (Nurhadi, 2003:1).
Lima bentuk belajar dalam metode
kontekstual adalah bentuk belajar sebagai berikut.
1. Relating adalah
bentuk belajar dalam konteks kehidupan nyata.
2. Experiencing
adalah belajar dalam konteks kegiatan eksplorasi, penemuan, dan penciptaan.
3. Applying
adalah belajar dalam bentuk penerapan pengalaman hasil belajar ke dalam
penggunaan dan kebutuhan praktis.
4. Cooperating
adalah belajar dalam bentuk berbagi informasi dan pengalaman, saling merespon,
dan saling berkomunikasi.
5. Transfering
adalah kegiatan belajar dalam bentuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya
berdasarkan konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar
yang baru (Suparno dalam Balfas, 2008:4).
Pembelajaran kontekstual menyandarkan pada memori spasial.
pemilihan informasi didasarkan kepada kebutuhan individu siswa. Adanya
kecenderungan mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin). Pembelajaran
kontekstual juga selalu mengaitkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki
siswa. Dalam pelaksanaannya, pembelajaran ini menerapkan penilaian autentik.
Perbedaan dengan pembelajaran yang konvensional dapat dicermati pada uraian
berikut:
a.
Pembelajaran konvensional
1) Menyandarkan kepada hafalan
2) Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
3) Cenderung berfokus pada guru
4) Cenderung berfokus pada satu bidang (disiplin tertentu)
5) Memberikan tumnpukan informasi kepada siswa pada saat
diperlukan
6)
Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian dan
ulangan
b.
Pembelajaran Kontekstual
1) Menyandarkan pada memori spasial
2) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan individu siswa
3) Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin)
4) Selalu mengaitkan informasi pengetahuan awal yang telah
dimiliki siswa
5)
Menerapkan penilaian otentik melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah.
(Balfas, 2008:5)
V. PEMBELAJARAN
SASTRA DI SEKOLAH DENGAN PENDEKATAN GAGNE Yuli Kwartolo (2009) dalam
tulisannya mengemukakan bahwa dalam buku yang berjudul ”The Conditions of
Learning” (1965), Gagne mengidentifikasikan mengenai kondisi mental
seseorang agar siap untuk belajar. Ia mengemukakan apa yang dinamakan dengan ”nine events of
instruction” atau sembilan langkah atau peristiwa belajar. Sembilan
langkah atau peristiwa ini merupakan tahapan-tahapan yang berurutan di dalam
sebuah proses pembelajaran. Tujuannya adalah memberikan kondisi yang sedemikian
rupa sehingga proses pembelajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Agar kesembilan langkah atau peristiwa itu berarti dan memberi makna yang dalam
bagi siswa, maka guru harus melakukan apa yang memang harus dilakukan. Dengan
kata lain menyediakan suatu pengalaman belajar atau apapun namanya agar kondisi mental siswa itu
terus terjaga untuk kepentingan proses pembelajaran. Apa yang dikemukan oleh Gagne
itu akan berarti jika guru mampu menyediakan sesuatu (materi, sumber belajar,
pengalaman belajar, aktivitas, dll.) yang memang dibutuhkan.
Tabel
berikut ini memperjelas bagaimana kesembilan peristiwa belajar dan pembelajaran itu menjadi berarti karena
proses mental yang seharusnya ada pada diri
siswa telah difasilitasi oleh guru dengan langkah atau tindakan kongkrit.
|
LANGKAH
PEMBELAJARAN
|
PROSES
MENTAL SISWA
|
TINDAKAN
GURU
|
|
1.
Menarik perhatian
siswa
|
-
Merangsang daya
penerimaan
siswa.
-
Menciptakan
curiosity
siswa
|
-
Menciptakan efek-efek
suara
tertentu
-
Mengajukan
pertanyaan
yang
menantang
|
|
2.
Menyampaikan
kepada
siswa
tentang
tujuan
pembelajaran
|
-
Membuat/
menentukan
tingkat
harapan
yang akan
dicapai
selama
belajar
|
-
Menguraikan tujuan
pada awal
pelajaran,
secara
lisan maupun
tertulis
|
|
3.
Menstimulir/atau
memanggil
terlebih
dahulu
informasi
atau
pengetahuan
yang
sudah
diperoleh
sebelum
proses
pengajaran
|
-
Mendapatkan
kembali
atau dan
menggiatkan
shortterm
memory siswa
|
-
Bertanya, berdiskusi,
melihat
gambar/video,
mendengarkan
cerita
sesuai
topik yang
dipelajari
|
|
4.
Menyajikan isi
pembelajaran
|
- Siswa
secara selektif
menanggapi
isi
pelajaran
|
-
Menyampaikan materi
pembelajaran
dengan menggunakan berbagai
metode,
pendekatan,
strategi,
dan alat bantu
pelajaran
|
|
5.
Menyediakan
pedoman
atau
petunjuk
belajar
|
- Siswa
menulis
berbagai
hal untuk
disimpan
pada
memori
supaya
bertahan
lama
|
-
Menyediakan
pedoman petunjuk
belajar
yang praktis
|
|
6.
Memberi
kesempatan
untuk
latihan/unjuk
performance
|
-
Merespons
pertanyaan,
tugas,
latihan,
dll.
|
- Memberi
pertanyaan,
tugas,
latihan yang
harus
dilaksanakan
|
|
7.
Memberi umpan
balik
|
-
Mengetahui tingkat
penguasaan
materi
dan tingkat
kebenaran
tugas
yang
dikerjakan
|
- Memberi
penguatan/
Memuji
|
|
8.
Melakukan
penilaian
|
-
Mendapatkan/
mempertegas
kembali
isi pelajaran
sebagai
bahan
evaluasi
akhir
|
-
Melakukan penilaian
|
|
9.
Mengekalkan dan
mengembangkan
pengetahuan
dan
kemahiran
siswa
|
-
Berlatih,
mempraktikkan
apa yang
telah
diperolehnya
(kognitif,
afektif,
psikomotorik)
dalam
situasi
yang baru
|
-
Menyediakan
kesempatan
yang
luas bagi
siswa
untuk
memanfaatkan
berbagai
pengetahuan,
sikap, dan
keterampilan
tersebut
dalam
situasi
yang berbeda
(praktikum,
unjuk kerja,project, simulasi, dll)
|
NGKAH
PEMBELAJARAN
PROSES MENTAL
Jika
diperhatikan secara mendalam, tabel di atas yang mencoba memperjelas penerapan
model “nine events of instruction” yang dikemukakan oleh Gagne sudah
mengimplementasikan teori pembelajaran yang bersifat perspektif dan teori belajar yang bersifat deskriptif. Dan yang paling esensial dari pendekatan ini
adalah, bahwa di dalam proses pembelajaran guru harus paham benar seperti apa
proses mental yang ada dalam diri siswa. Ketika guru menyadari akan hal itu, maka
dengan mudah guru dapat memfasilitasi berbagai pengalaman belajar seperti apa
yang cocok agar proses mental siswa tersebut terus berkembang.
VI. PERBANDINGAN
PENDEKATAN BERBASIS KONTEKSTUAL DENGAN
PENDEKATAN GAGNE DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH
Berdasarkan pemaparan
kedua jenis pendekatan di atas maka perbandingan keduanya dapat dilihat pada
beberapa aspek, selain perbedaan tahapan-tahapan seperti yang dipaparkan di
atas, dua hal penting yang menjadi pembeda keduanya adalah hal yang menjadi dasar pendekatannya terhadap
siswa dalam belajar dan keefektifan dalam merealisasikannya dalam pembelajaran
sastra di kelas. Lebih jelasnya, akan diuraikan sebagai berikut.
a. Perbandingan
berdasarkan aspek dasar pendekatan terhadap siswa
Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang
lebih menekankan kaitan materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan
mendorong siswa mengaitkan pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pendekatan ini
membuat hasil pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
bersifat alami, karena siswa bekerja dan mengalami, bukan sekadar mentransfer
pengetahuan dari guru ke siswa. Sedangkan pendekatan Gagne lebih menekankan bahwa
di dalam proses pembelajaran guru harus paham benar seperti apa proses mental yang
ada dalam diri siswa. Ketika guru menyadari akan hal itu, maka dengan mudah
guru dapat memfasilitasi berbagai pengalaman belajar seperti apa yang cocok
agar proses mental siswa tersebut terus berkembang.
b. Perbandingan
berdasarkan aspek keefektifan dalam realisasi di kelas
Berdasarkan perbedaan pada poin (a), pendekatan
kontekstual yang menekankan pembelajaran terhadap kemampuan siswa berdasarkan
kenyataan yang ada di sekitar mereka akan memudahkan siswa menerima dan
mengerjakan latihan tanpa harus menganalisis kesiapan mental mereka, karena apa
yang akan mereka proses dalam pembelajaran sastra merupakan pengalaman yang
telah mereka lihat dan rasakan. Hal ini akan lebih efektif dan mendukung
kelancaran pembelajaran karena tidak memerlukan pengkodisian mental yang cukup
lama dan bertahap seperti pada pendekatan yang ditawarkan Gagne. Mencipta
sastra tidak hanya berkaitan dengan pengkodisian mental siswa, jauh lebih
penting dari itu adalah kemampuan siswa dalam mengapresiasi dan berekspresi
dalam berbagai bentuk karya karena karya sastra itu sendiri lahir atas dukungan
perasaan, pikiran, dan pengalaman pengarang. Karya sastra itu sebagai ekspresi
perasaan, pikiran, dan pengalaman pengarang (Pradopo, 2008:162)
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis perbandingan
di atas, dapat disimpulkan pendekatan kontekstual akan lebih efektif untuk
diterapkan dalam pembelajaran sastra dibandingkan menggunakan pendekatan Gagne.
DAFTAR
PUSTAKA
Aminuddin.
2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra.
Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Balfas, Anwar.
2008. Mengembangkan Kemampuan Literasi dan Berfikir Kritis Siswa Melalui Pembelajaran Sastra Berbasis
Konteks. Linguistika Vol. 15, No. 29, September 2008.
3_anwar_balfasi_pdf [7 November 2010].
Efendi,
Mahmudi. 2005. Diktat:Metode Pengajaran
Sastra. Mataram:FKIP Universitas Mataram.
Ibrahim,
Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Junus,
Umar. 1988.Teori Sastra dan Fenomena
Sastra. Bandung: Angkasa.
Kwartolo,
Yuli. 2009. Sembilan Peristiwa Belajar
Gagne (Sebuah Pendekatan Pembelajaran.
Penabur Jakarta No. 25 Maret-April 2009. 09_0.pdf [7 November 2010] .
Lie,
Anita. 2004. Cooperative Learning.
Jakarta:Grasindo.
Mahayana, Maman S. 2007. Apresiasi Sastra Indonesia di Sekolah. http://johnherf.wordpress.com/2007/02/07/bahasa-dan-sastra-indonesia-di- sekola[7 November 2010].
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah
Mada Press.
Nurhadi.
2003. Pendekatan Kontekstual. Malang: Universitas Negeri Malang.
Pradopo,
Rachmat Djoko. 2008. Beberapa Teori
Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
LANGKAH
PEMBELAJARAN
PROSES MENTAL
SISWA
YANG DILAKUKAN
GURUTahun. Judul. Nama jurnal volume (nomor):halaman.
ketersediaan(tanggal akses)